Laman

Alamat: Jalan Pramuka, Komplek Smanda, Perum Bumi Pramuka Asri No 19 Blok D, Banjarmasin, Kalsel - Indonesia email: pusatkajiankebudayaanbanjar@yahoo.co.id

Jumat, 17 Mei 2013

Bumi Para Datu



Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS Poerwadarminta, Datu bisa diartikan sebagai Raja; Ratu; Dukun, orang yang piawai dalam segi obat-obatan; orang yang dikeramatkan atau memiliki karomah, yang sudah meninggal dunia. Pada masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, makna terakhir itulah kata Datu sering diartikan.

Sekitar 15 kilometer dari kota Rantau, ibu kota Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, terdapat sebuah desa, yaitu Desa Tatakan, yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Tapin Selatan. Tak berlebihan kiranya bila desa itu dikatakan sebagai “Kampung Para Datu”. Karena dulunya, di desa itu setidaknya tercatat 14 orang Datu pernah hidup dengan segala kelebihan dan karomahnya masing-masing.

Pertama dan fenomenal karena ukuran tubuhnya yang begitu besar adalah Datu Nuraya. Kedua batu nisan pada kuburan sang Datu berjarak 50 meter lebih. Konon menurut cerita, ukuran tubuh sang Datu lebih dari itu.

Beliau dikuburkan dengan posisi kaki di lipat Hamzah, karena liang kubur yang digali saat itu masih terlalu pendek. Selain ukuran tubuh yang tidak lazim, Datu Nuraya terkenal karena beliaulah orang yang membawa dan mewariskan Kitab Barencong.

Selanjutnya Datu Suban yang bisa dikatakan sebagai “Datu Para Datu k”. Disebut begitu, karena beliau adalah guru bagi para Datu yang lain. Beliau merupakan pewaris langsung kitab Barencong yang terkenal itu.

Sampai saat ini, tidak seorangpun pernah melihat langsung kitab tersebut sehingga menimbulkan beragam asumsi dikalangan masyarakat. Sebagian orang beranggapan kitab Barencong memang ada dan sebagian lagi beranggapan bahwa kitab tersebut merupakan simbolisasi dari ajaran Datu Suban tentang ilmu Hakekat yang meliputi ilmu Tauhid atau lebih dikenal dengan istilah Sifat Duapuluh. 

Datu Sanggul,  merupakan murid terakhir dari Datu Suban namun yang paling terkenal diantara ke-12 murid yang lain. Meskipun paling muda dan bukan orang asli daerah ini, namun Datu Sanggul berhasil menguasai seluruh ilmu Datu Suban dan mendapat kehormatan mewarisi Kitab Barencong. Dengan karomah yang dimilikinya, Datu Sanggul setiap hari Jum’at mampu melaksanakan sholat di Masjidil Haram, Mekkah Al Mukarramah.

Datu Murkat, murid pertama dan tertua yang berguru kepada Datu Suban. Beliau terkenal mumpuni dalam hal ilmu kedigjayaan. Tubuh beliau kebal dari segala macam senjata yang terbuat dari besi. Selain itu, siapapun yang mempunyai niat jahat tidak akan bisa mengenainya.

Murid kedua Datu Suban adalah Datu Tamingkarsa. Beliau bergelar Singa Jaya dan merupakan sosok yang gagah perkasa tiada tanding. Ilmu yang dikuasai dan menjadi andalan adalah ilmu keprajuritan dan kepahlawanan. Pada masa penjajahan Belanda di Banua ini, beliau senantiasa tampil sebagai Panglima Perang yang gagah berani.

Datu Niang Thalib, menguasai ilmu Kabariyat Dunia yang meliputi ilmu kedigjayaan dan ilmu kepahlawanan. Bila ada orang yang berniat jahat kepadanya, hanya dengan satu hentakan kaki orang tersebut akan taduduk  (terduduk) tak berdaya. Sebagian masyarakat mempercayai, beliau masih hidup sampai saat ini dan menjadi penguasa alam gaib di hutan Pulau Kadap. 
Datu Karipis, terkenal mempunyai ilmu gancang (kuat). Mampu mengangkat beban yang sangat berat dan besar dengan mudah. Beliau juga mampu berjalan diatas permukaan air laksana berjalan dipermukaan tanah. Selain itu, juga memiliki badan yang kebal terhadap segala macam senjata tajam, bahkan tahan terhadap api.

Datu Ganun, menguasai ilmu kesempurnaan dan ilmu kejayaan. Dengan ilmu yang dimilikinya, Datu Ganun sanggup memperbanyak diri menjadi empat. Bila beliau merapalkan ilmunya dan menjadi banyak, maka tiada seorangpun dapat membedakannya. Rupa dan bentuk keempatnya sama persis sehingga beliau dapat berada di empat tempat berbeda pada saat yang bersamaan.

Datu Argih, berhasil memperoleh ilmu kesempurnaan dunia dan akhirat. Beliau bukan hanya menguasai masalah keduniawian namun juga mumpuni dalam ilmu agama. Datu Argih dikenal sebagai sosok yang tangguh dan perkasa ketika menghadapi dan menyelesaikan persoalan-persoalan menyangkut keduniaan. Dalam ilmu keagamaan, beliau dikenal sebagai ‘Abid atau ahli ibadah.

Datu Ungku, merupakan murid Datu Suban yang ketujuh. Datu Ungku menurut riwayat hanya belajar dan mendalami ilmu keduniawian semat-mata, yaitu ilmu kewibawaan. Pancaran kewibawaan beliau sangat luar biasa sehingga hanya dengan menepukkan kedua tangannya maka orang yang mendengarnya langsung taduduk, lunglai dan tak berdaya. Terlebih lagi mereka yang berniat jahat.

Datu Labai Duliman, keahlian dan ilmu yang beliau miliki tergolong khusus dibandingkan murid-murid yang lain. Beliau merupakan ahli ilmu Falakiyah (ilmu huruf) dan perbintangan. Dengan ilmunya, beliau sanggup mengetahui peristiwa yang akan terjadi dan dimana terjadinya. Konon khabarnya, beliau sanggup mengetahui kapan turunnya hujan, kapan sehelai daun terlepas dari dahannya dan lain-lain.

Datu Harun, seperti juga Datu Murkat dan Datu Karipis, menguasai ilmu kebal. Beliau memiliki kulit yang sangat keras laksana besi. Saking kerasnya, konon ketika tersentuh kulit beliau akan berdenting bagai besi. Bahkan bila duduk maka akan terdengar bunyi yang keras karena kemaluan beliau juga sekeras besi.

Datu Arsanaya yang merupakan murid kesepuluh, sebelum menjadi murid Datu Suban adalah orang yang sakti mandraguna. Namun sayangnya, beliau sangat jahat dan kejam. Apapun yang diinginkannya, walau bertentangan dengan ajaran dan syariat agama akan dijalankan. Akhirnya, atas bimbingan Datu Suban beliau bertobat dan menjadi orang yang alim serta ahli ibadah.

Datu Rangga merupakan murid yang kesebelas. Tak banyak informasi dan cerita yang meriwayatkan sejarah atau perjalanan hidup beliau. Dari cerita yang beredar dimasyarakat disebutkan, Datu Rangga menguasai ilmu-ilmu keduniaan seperti ilmu keprajuritan, kekebalan dan lain-lain.

Datu Galuh Diyang Bulan, merupakan satu-satunya murid perempuan Datu Suban. Beliau mendalami dan menguasai ilmu kecantikan dan awet muda. Beliau ahli dalam mamandi’i orang yang ingin tampak cantik, awet muda, disayang suami, cepat dapat jodoh dan hal lain yang berkaitan dengan urusan kewanitaan. Beliau terkenal bahkan hingga keluar pulau.

Sampai saat ini, karomah dan kesaktian para Datu yang pernah hidup di Desa Tatakan masih dipercaya masyarakat. Makam para Datu ramai dikunjungi, bukan hanya oleh masyarakat lokal bahkan oleh masyarakat luar pulau. Banyak yang meyakini ilmu dan kesaktian urang Banjar asal muasalnya dari para Datu tersebut. Namun yang pasti, dengan banyaknya Datu yang pernah hidup di Desa Tatakan membuat desa itu pantas disebut sebagai Bumi Para Datu.*)Rasta Albanjari