Laman

Alamat: Jalan Pramuka, Komplek Smanda, Perum Bumi Pramuka Asri No 19 Blok D, Banjarmasin, Kalsel - Indonesia email: pusatkajiankebudayaanbanjar@yahoo.co.id

Rabu, 29 Mei 2013

Kuriding, Akankah Selamanya Patah?



Oleh: Ferry "Hymunk" Kusmana
Ampat si ampat lima kaka ai
kuriding patah
patah sabilah, patah sabilah di higa lawang
Ampat si ampat lima kaka ai
Ku tanding sudah
kada manyama, kada manyama nang baju habang

Siapa yang tak kenal dengan lagu tersebut? Lagu Banjar dengan judul "Ampat Lima" karya H Anang Ardiansyah itu sangat di kenal masyarakat di Kalimantan Selatan.

Akan tetapi, adakah yang kenal dengan "kuriding" yang disebut-sebut dalam liryk lagu itu? Mungkin hanya sedikit sekali urang Banjar yang tahu apa dan bagaimana wujud “kuriding” tersebut.

Dalam tulisan ini saya mencoba untuk menyampaikan sebuah catatan pengalaman berkenalan dengan alat musik tradisional Banjar yang kini sangat langka dan hampir punah.

Pertama kali menyaksikan kesenian "Kuriding" pada acara Kongres Budaya Banjar (KBB) II, 2009 lalu di Banjarmasin. Saat pembukaan acara tersebut, menampilkan kesenian Kuriding yang dimainkan oleh seniman dari etnis Bakumpai[¹] di Kabupaten Batola (Marabahan) yang sudah turun temurun mewarisi dan menggeluti kesenian ini.


Dari penuturan salah satu pemain Kuriding,  Raminah, saat ini sudah jarang yang bisa memainkan alat musik tersebut. Bahkan yang membuatnya pun sudah lama meninggal sehingga mereka hanya bisa memainkan Kuriding peninggalan yang diperoleh secara turun temurun.

"Dulu jumlah kami yang belajar Kuriding sekitar 50 orang, tetapi yang hingga kini terus memainkannya hanya tiga orang," kata Raminah sambil memperlihatkan kuriding yang didapatnya dari warisan sang ayah.

Kuriding biasa dibuat dari bahan pelepah enau atau dari batang kayu pangaris yang mirip kayu ulin, yang hanya tumbuh di daerah Muara Teweh, Barito Utara, Kalimantan Tengah.

Memainkan Kuriding perlu keterampilan khusus. Sesulit memainkannya, alat musik Kuriding juga sulit dibuat meskipun tampak sederhana.

"Kalau salah membuatnya dapat membahayakan orang yang memainkannya. Makanya lagu Kuriding Patah itu benar adanya. Sebab, kuriding bisa patah ketika dimainkan dan berakibat membahayakan pemainnya," ujar Raminah.

Keingintahuan saya dengan alat musik itu semakin meningkat. Dengan bantuan salah seorang kawan dari Kota Kandangan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), saya memesan tiga buah Kuriding yang dibuat dari kayu Bengkala kepada salah seorang warga Dayak Loksado yang bisa membuatnya.

Oleh sang pengrajin dikatakan, membuat kuriding sangat sulit. Dari sepuluh buah kuriding yang dibuat, yang menghasilkan kualitas bagus hanya antara lima hingga enam buah saja. Selain itu, kayu bengkala yang dijadikan bahan,  hanya ada di lereng gunung Kentawan di Kecamatan Loksado, di jejeran pegunungan Meratus.


Kuriding (atau ada juga yang menyebutnya Guriding) adalah alat musik tradisional asli buatan nenek moyang urang Banjar. Kuriding bisa terbuat dari pelepah enau, bambu ataupun kayu dengan bentuk kecil, dan memiliki alat getar (tali) serta tali penarik. Dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir sambil menarik gagang tali getar yang akan menghasilkan bunyi. Dengan ritme tertentu, bunyi yang dihasilkan akan terdengar sangat indah dan merdu.

Mitos asal-usul kuriding menarik untuk disimak. Syahdan, Kuriding adalah milik seekor macan di hutan Kalimantan Selatan. Suatu ketika, sang macan meminta anaknya untuk memainkan guriding. Namun, sang anak justru mati karena tenggorokannya tertusuk guriding. Akibatnya sang macan mewanti-wanti agar anak keturunannya tidak lagi memainkan guriding.

Dalam perkembangannya, mitos tersebut menjadi dasar cerita rakyat yang beredar pada masyarakat Banjar, bahwa kuriding dipercaya sebagai alat ampuh untuk mengusir macan. Urang Banjar dahulu juga menggantungkan atau meletakkan Kuriding di atas tempat tidur anak-anak mereka, sebagai simbol penolak bala.

Dalam kehidupan sosial dan budaya urang Banjar, kuriding memiliki fungsi guna yang beragam. Yaitu sebagai alat untuk pelipur lara di kala sepi dan melepas lelah usai bekerja di kebun atau di hutan, sebagai alat untuk mengingatkan mereka akan leluhur dan sebagai media yang disakralkan.

Fungsi-fungsi tersenut masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Banjar hingga kini. Akan tetapi, sudah sangat jarang ada yang memainkan atau menyimpannya, kecuali mereka yang masih peduli dengan budaya tradisi.

Keberadaan Kuriding saat ini sangat memprihatinkan, bahkan hampir punah. Kuriding kini hanya dimainkan oleh generasi tua yang tinggal di kawasan pedesaan. Generasi muda Banjar, sudah enggan memainkan Kuriding. Karena selain di anggap sudah ketinggalan zaman, para generasi muda di Banua lebih senang memainkan alat musik modern.

Kuriding atau Guriding merupakan peninggalan leluhur yang telah turut menyumbang kekayaan budaya di Kalimantan Selatan ini mestinya terus dipelihara. Mengingat keberadaannya yang memprihatinkan dan ini merupakan satu pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah daerah serta para pemerhati budaya untuk menyelamatkan Kuriding/Guriding dari kepunahan.

Alat musik Kuriding termasuk dalam kategori alat musik "Jew's Harp" yang diduga merupakan alat musik paling tua yang ada di dunia. Sebarannya bukan hanya di Asia, namun juga terdapat di Benua Eropa, dengan nama yang berbeda-beda dan bahan beragam. Dari sisi produksi suara, tak jauh berbeda, hanya cara memainkannya saja yang sedikit berlainan.  Ada yang di trim (di getarkan dengan di sentir), di tap ( dipukul) dan ada pula yang di tarik dengan menggunakan benang seperti Kuriding.

Di daerah lain di Indonesia juga ada alat musik sejenis Kuriding yang saat ini kondisinya juga sudah sangat langka.  Alat musik seperti itu terdapat di Daerah Istimewa Yogyakarta, biasanya dimainkan saat menjelang musim panen padi tiba dan dikenal dengan nama "Rinding".

Saat alat musik tersebut dimainkan, akan terdengar alunan nada bunyi yang unik dari bambu pipih yang ditiup dan bambu bulat yang dipukul.

"Inilah Rinding Gumbeng, alat musik yang kami percaya sudah ada sejak jaman purba dan sudah turun temurun diwariskan kepada kami," ujar Sudiyo, pimpinan kelompok Ngluri Seni dari Desa Beji, Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.

Di Sunda, alat musik sejenis Kuriding dikenal dengan nama "Karinding". Alat musik tersebut sudah di kenal dalam kehidupan masyarakat di tatar Sunda sejak abad ke-15. Dalam Bahasa Sunda, penyebutan Karinding juga merujuk pada Kakarindingan, yaitu sejenis serangga bersuara nyaring yang hidup di air sawah. Saat ini, Karinding dapat dijumpai di Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Di Pulau Dewata, Bali, alat musik sejenis Kuriding dinamakan "Genggong". Tradisi genggong dapat ditemui di Desa Batuan, Gianyar. Genggong dimainkan sebagai pengiring tari, yaitu tari Kodok dan sebagai sajian musik instrumental.

Untuk membunyikannya, genggong dipegang dengan tangan kiri dan ditempelkan di bibir. Tangan kanan memetik "lidah"nya dengan jalan menarik tali benang yang di ikatkan pada bagian ujung. Perubahan nada dalam melodi genggong dilakukan dengan mengolah posisi atau merubah rongga mulut yang berfungsi sebagai resonator.

Kuriding, akan kah selamanya patah di Banua Banjar ini?

Tentunya perlu usaha semua pihak untuk pelestariannya, termasuk kita generasi muda Banjar sebagai pewaris budaya yang patut dibanggakan. Kuriding dapat saja di kolaborasikan dengan alat-alat musik modern, sehingga menghasilkan karya musik yang sesuai dengan selera anak muda saat ini.

Kuriding ku, tak akan lagi patah...

* * *


Tulisan diatas adalah tulisan saya yang sudah dimuat di media sosial dan media online beberapa tahun yang lalu. Namun perlu saya tambahkan bagian di bawah ini.

Setelah mendapatkan Kuriding dari Loksado sebanyak tiga buah, walau saat itu masih belum bisa memainkannya, penggalian informasi tentang alat musik sejenis terus dilakukan. Terutama informasi dari kawan-kawan para penggemar, penggiat dan pemain alat musik sejenis kuriding yang berhimpun dalam Asosiasi Harpa Mulut Indonesia (kini berganti nama menjadi Asosiasi Lamellafon Indonesia).

Lewat Asosiasi tersebut, kami berkenalan dan berkomunikasi dengan seorang kawan praktisi seni dari Kabupaten Gianyar, Bali yang bersedia membantu merekonstruksi ulang Kuriding. Nama beliau Nyoman Suwida. Melalui beliau lah, salah satu Kuriding koleksi kami di duplikasi sebanyak 20 buah.

Selanjutnya, Kuriding tersebut kami bawa ke salah seorang Pamong Budaya di Taman Budaya Kalimantan Selatan, Mukhlis Maman atau yang lebih dikenal dengan sapaan Julak Larau.

Alhamdulillah, batamu buku wan ruasnya. Semangat untuk mengangkat dan mengenalkan kembali kuriding ke khalayak ramai, khususnya masyarakat di Kalimantan Selatan semakin meningkat.

Lewat beliau dan beberapa kawan penggiat seni di Taman Budaya Kalsel, kuriding mulai digunakan dalam beberapa pementasan baik itu pementasan musik, sastra maupun theater, dengan harapan kuriding menjadi alat musik yang sama dalam hal penggunaannya dengan alat musik modern ataupun alat musik tradisional lainnya.

Penyelamatan kuriding perlu dan harus segera dilakukan. Karena banyak sudah contoh alat musik sejenis di derah lain yang sekarat dan hampir punah, namun ada pula yang begitu pesat kemajuannya. Kita patut belajar banyak dan terus menggali informasi bagaimana di daerah lain yang mana alat musik sejenis kuriding bisa jauh lebih dikenal.

Di Sumatra Utara, ada alat musik sejenis Kuriding dengan nama Saga-saga. Dari informasi yang kami dapatkan, sudah tidak ada lagi pembuat dan orang yang memainkannya. Semoga hal itu tidak terjadi dengan kuriding.

Di Jawa Barat ada Karinding yang melalui peran Abah Olot, kini banyak dikenal. Ada pula Asep Nata yang membuat Karinding Towel. Karinding kini bisa bersanding dan dimainkan bersama alat musik modern.

Di Bali, peran Pa Nyoman Suwida dan kawan-kawan yang terus mengenalkan kepada turis yang datang ternyata sangat menunjang kemajuan alat musik Genggong. Bahkan di Papua, setiap ada Festival Lembah Baliem selalu diadakan lomba memainkan pikon yang juga merupakan alat musik sejenis Kuriding.

Jangan biarkan lagi kuriding patah. Kuriding sudah bisa diajarkan, kuriding sudah mudah di dapatkan, kuriding sudah lebih mudah dipelajari, kuriding sudah mulai dikenal lagi, kuriding sudah bangkit lagi, kuriding sudah tidak usang lagi, kuriding sudah kada tinggalam lagi. *)Ferry "HyMunk" Kusmana

*foto-foto oleh: Ferry "Hymunk" Kusmana



[¹]Bakumpai adalah sub etnis Dayak di Kalimantan Selatan yang mendiami kawasan pesisir sungai. Mayoritas urang Bakumpai beragama Islam. Karena itulah, seringkali urang Bakumpai keberatan bila disebut Dayak, karena Dayak mayorits beragama Kaharingan. Urang Bakumpai lebih bercirikan Banjar dibandingkan Dayak, kecuali dalam hal logat/dialek bahasa tempatan.