Laman

Alamat: Jalan Pramuka, Komplek Smanda, Perum Bumi Pramuka Asri No 19 Blok D, Banjarmasin, Kalsel - Indonesia email: pusatkajiankebudayaanbanjar@yahoo.co.id

Senin, 20 Mei 2013

Perang Banjar, Migrasi Dan Penyebaran Dakwah Islam Di Negeri Serumpun Melayu (Bagian Kedua)

Oleh: Taufik Arbain
Membangun Peradaban Melayu di Tanah  Rantau

Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Kesultanan Banjar, baik krisruh perebutan kekuasaan yang berulang-ulang, kekeringan dan kebanjiran lahan padi sawah hingga penghindaran dibawah kuasa Belanda, adalah peristiwa penting yang menjadikan etnis Banjar sebagai kategori suku migrasi ulung setara dengan etnis Minang, Bugis, Madura dan Jawa.

Kehadiran suku Banjar di kawasan daerah tujuan memberikan warna baru bagi peradaban dan kebudayaan penduduk pribumi. Sehingga suku Banjar tidak sekadar dikenal sebagai petani sawah dengan sistem parit garpunya dan pola perkebunan kelapa[1] maupun pedagang,  tetapi  juga dikenal sebagai suku yang kental dengan wajah keIslamannya. 

Dimana ada orang Banjar bermukim sudah dipastikan ada surau/langgar atau masjid. Bahkan setiap pekan dimana masyarakat  Banjar dominan, dipastikan ada masjid dan langgar. Demikian pula, orang Banjar gemar mendirikan pendidikan Islam seperti Pesantren dan Madrasah serta kegiatan keagamaan lainnya.  

Pencirian tersebut sebenarnya lebih dominan dibandingkan dengan pencirian lain yang berorientasi pada jenis pekerjaan yang digeluti, kecuali ada pandangan negative (streotif) sebagai orang yang temperamental (keras dan garang) sebagaimana kasus-kasus di semenanjung Malaya dan  Sumatera.[2]

Dalam perspektif demografi, catatan sensus statistic Malaya  tahun 1931 menyebutkan, orang Banjar kelahiran Hulu Sungai mencapai 45.433 ribu jiwa. Sedangkan orang Banjar pada tahun yang sama sebanyak 77.838 jiwa tersebar di Riau, Jambi, Medan dan pesisir utara lainnya.

Namun demikian, setidaknya pada tahun 1930 catatan kependudukan keseluruhan penduduk Hulu Sungai/Banua Lima (sekarang Banua Anam) tidak melebihi angka 500.000 jiwa. Dimana rasio jenis kelamin 91-92 laki-laki per-100 perempuan yang menunjukkan laki-laki Banjar banyak keluar kampung halaman meninggalkan anak istri, berlayar berbantalkan ombak berselimutkan angin (Arbain, 2007). Angka sensus tersebut memberikan makna pengaruh kehadiran orang Banjar dalam kawasan di luar tanah leluhurnya pada masyarakat tempatan atau pada kampung-kampung baru yang dibuatnya.

Ada beberapa sebab penting kuatnya pengaruh kehadiran orang Banjar di tanah rantau sehingga memberikan sumbangan terhadap perkembangan peradaban melayu, khususnya pengajaran agama Islam, sebagaimana kajian-kajian sebelumnya baik yang dipaparkan Basri (1988), Daud (1997), Potter (2000), Arbain (2004) tentang pengidentifikasian orang Banjar di tanah rantau yang agamis.

Dalam konteks ini, sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari faktor internal di tanah leluhur sendiri di masa Kesultanan yang memberikan andil penyebaran peradaban Melayu Islam di kawasan Kalimantan/Borneo dan sekitarnya.
 
Foto: net
Pertama: Berdirinya Kesultanan Banjar sudah mencanangkan Islam sebagai agama resmi kerajaan, sekalipun sebelum dinobatkannya Pangeran Samudera menjadi Sultan Suriansyah, penduduk pribumi kawasan muara Barito sudah ada yang memeluk agama Islam. Namun hal tersebut menandakan Islam tidak mampu berkembang pesat tanpa ada campur tangan kerajaan untuk menegakan panji-panji Islam dan menjadikan adat serta peradaban pribumi terintegrasi sebagaimana konsep dan definsi Melayu. 

Langkah tersebut mendorong para pembesar Dayak lainnya memeluk Islam beserta bubuhannya.  Situasi ini merupakan peristiwa penting proses pe-Melayuan orang-orang Ngaju, Maanyan, Dusun, Deyah, Lawangan dan Bukit yang belakangan disebut dengan Dayak, menjadi entitas etnis Banjar hingga menjadi kesatuan politik sebagai bangsa Banjar di bagian selatan Kalimantan/Borneo.

Hal ini bisa dikatakan  merupakan fase pertama proses pe-Melayuan dengan ciri khas ke-Banjarannya di antara melayu-melayu yang ada di semenanjung Sumatera, Malaya dan Brunei.

Kedua, Komitmen Kesultanan Banjar atas Islam berlangsung sampai Kesultanan dihapuskan (hingga dibangkitkan kembali abad 21/2010) menjadikan tali-temali perkembangannya menjadi kuat dan permanen dengan segala ciri-ciri khas lokalnya. Hal ini sedikit membedakan dengan kerajaan di Jawa yang sampai perkembangannya sebagian tidak menampakkan kekentalan peradaban Islam pada masyarakatnya, baik dalam tata adat maupun tata pemerintahan dan simbol-simbol kerajaan. 

Momentum perhatian Sultan atas seorang Muhammad Arsyad Al-Banjari hingga generasi seterusnya dalam menuntut ilmu di Mekkah, memberikan dampak besar tiada terkira dalam perkembangan Islam itu sendiri dan perkembangan peradaban Melayu yang bersenyawa dengan ajaran Islam pada masa Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidillah I  (1761-1801). 

Fakta ini merupakan tonggak besar peradaban Melayu menjamah tata adat yang bernuansa Islam bagi penduduk negeri, pensosialisasian aksara arab, hingga nilai-nilai kehidupan keseharian, penamaan anak secara Islami, sastra melayu tinggi yang termaktuf dalam kitab Sabilal Muhtadin, konstruksi jabatan strategis pemangku agama Islam dalam struktur Kesultanan Banjar, hingga dibuatnya peraturan-peraturan atau yang dikenal dengan Undang-Undang Sultan Adam di masa pemerintahan Sultan Adam Al-Wasiq Billah (1835-1857), khususnya di selatan Borneo (Saleh, 2013). 

Pasal-pasal yang termaktub dalam undang-undang berkaitan dengan soal tanah perwatasan, perzinaan, memutuskan hukum, hukum waris, mendirikan shalat berjamaah dan shalat Jumat,  selain adanya kitab  Sabilal Muhtadian tentang hukum Fiqh yang dikarang oleh Mufti Tuan Guru Besar Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari.[3]  

Salah satu pasal 2 dari Undang-Undang Sultan Adam ( UUSA) berbunyi, “ku suruhakan orang-orang kampong untuk maulah langgar dimana-mana bagana (bertempat tinggal), dan ku suruhakan jua supaya sumbahayang berjoemaah. Apabila kadada sesiapa nang mengindahkan, padahkan kayah diaku (laporkan padaku)”. Isi Undang-Undang ini sangat mewarna pencirian orang Banjar dimanapun berada, sekalipun Kesultanan Banjar pernah hapus.

Ketiga; Kepemangkuan Agama. Ini dimaksudkan mengingat Kesultanan Banjar menjadikan Islam sebagai agama resmi dan ideologi Kesultanan dimana tugas-tugas kepemangkuan memberikan dampak positif atas perkembangan peradaban Melayu Islam di tanah Banjar.

Munculnya kelembagaan Mufti, Qadhi, penghulu,  khalifah dan adanya khatib yang mengurus kegiatan di masjid, menjadikan perkembangan ajaran serta tata kehidupan masyarakat Banjar menjadi Islami hingga tumbuhnya pondok-pondok pengajaran Islam.  

Daud (1997) mencatat bahwa Syech Muhammad Arsyad Al-banjari tidak sekadar memberikan bimbingan ilmu agama kepada laki-laki saja, tetapi ia juga membuka pengajian perempuan yang dibantu oleh cucu perempuannya, Fatimah, yang juga keponakan Mufti Jamaluddin, dalam mencatat segala fatwa dan hujahnya hingga akhirnya dikenal dengan Parukunan Jamaluddin, selain karyanya  Bulugh Al-Maram fi Takhalluf al-muafiq fil Qiyam (1227 H/1831 M) yang beredar di Sumatera, Malaysia dan kawasan Borneo tanah Melayu lainnya sebagai gerakan massif dan militan (Rahmadi, 2010).

Dalam konteks ini, pada perkembangan adat dan tradisi mendapat sentuhan-sentuhan baru yang melahirkan peradaban adat dan tradisi baru.  Disinilah letak bersenyawanya adat dengan Islam yang tumbuh dan berkembang di Kesultanan Banjar.

Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari bersama muridnya telah mengkonstruksi nilai-nilai animesma dan Hindu seperti upacara kenduri, manyanggar banua, babasal dan wafak-wafak serta mantera-mantera untuk kepentingan perang dan menaklukkan musuh menjadi lebih Islami (akan dirincikan berikutnya).

Sudah menjadi mafhum sebelumnya, perayaan-perayaan keagamaan masih bercampur baur dengan ajaran animisme/Hindu sedikit demi sedikit terkikis. Sperti misalnya ritual baayun anak menjadi baayun mulud dimana syair-syair maulud shalawat rasul dikumandangkan, termasuk juga kegiatan kesenian sisa-sisa dari masa Hindu.

Sultan Hidayatullah I misalnya, memberikan perhatian pada perkembangan rebana dan Qasidah hingga melahirkan kesenian Sinoman Hadrah yang khas lokal Banjar dalam rangka menyambut tamu-tamu agung, tidak sekadar sebagai sebuah hiburan semata (Mudjahidin, 2013).  Sentuhan – sentuhan seperti itu berlangsung dalam kehidupan orang Banjar dikarenakan militant dan massifnya gerakan – gerakan dakwah dan pusat pengajian yang dilakukan para anak keturunan Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari serta murid-muridnya yang menyebar ke berbagai tempat.

Jika mengacu pada pendapat Weber yang secara umum membedakan dalam tiga otoritas yaitu: (a) otoritas kharismatik, yaitu berdasarkan pengaruh dan kewibawaan pribadi, (b) otoritas tradisional, yaitu pengaruh yang dimiliki berdasarkan pewarisan; dan (c) otoritas legal-rasional, yaitu pengaruh yang dimiliki berdasarkan jabatan serta kemampuannya, maka kepemangkuan agama dimiliki para pemangku agama di Kesultanan Banjar terjadi pergerakan transformasi keilmuan dan nilai-nilai keteladanan, mendorong akselarasi nilai-nilai peradaban Islam di Tanah Banjar yang pada gilirannya berdampak pada perilaku manusia Banjar hingga ke tanah rantau.

Keempat, faktor perang Banjar sekalipun memberikan kerugian  bagi bangsa Banjar dengan hapusnya Kesultanan sebagai pemegang otoritas kuat dalam hukum agama Islam sehingga pada akhirnya menjadi Urang Banjar yang  tak berdaulat lagi, justru perang terlama dalam memerangi penjajah Belanda di kawasan Bornoe/Kalimantan tersebut telah melahirkan suatu situasi yang mendorong orang Banjar bergerak karena tekanan politik dan kisruh kalah perang  menuju banyak tempat.  

Gerakan migrasi lanjutan setelah perang Banjar sebenarnya hanyalah motif ekonomi saja karena keberhasilan (remittance) para migran terdahulu yang show of force sebagai “ Haji ” adalah symbol keberhasilan ekonomi pulang kampung untuk mengajak kerabat yang lain. Kelompok yang melakukan migrasi ini tentu saja adalah para prajurit perang, para bangsawan Banjar, para haji-haji dan sebagian para Tuan Guru yang sememangnya terlibat sebagai bagian pimpinan pemberontakan pada Belanda. 

Penulis berpendapat, kelompok migran ini setidaknya menjelaskan bagaimana kesenian  tradisi Banjar hampir tidak berkembang di tanah rantau sebagaimana migrasinya orang Jawa dengan Reog Ponorogo dan Wayang, disebabkan kelompok-kelompok ini adalah orang-orang yang selama di Tanah Banjar sibuk dengan perang,  bertani serta menuntut ilmu agama pada saat itu. 

Tidak mengherankan sangat nampaklah wajah pemukiman orang-orang Banjar di tanah rantau relative ditemukan banyak kegiatan keagamaan dengan pusat pengajian, surau dan masjidnya.  Tentu saja jika tidak terjadi perang  Banjar, boleh jadi akan lain warna gerakan migrasi orang  Banjar dan perannya dalam menyebarkan peradaban Melayu lewat dakwah Islam di tanah rantau.  Di samping diuntungkan adanya kawasan yang di tuju  pihak Kesultanannya menjadikan Islam sebagai agama resmi sehingga memudahkan bagi migran Banjar dalam mengembangkan semangat dakwahnya ke-Islamannya.

Kelima, Jaringan geneologis Tuan Guru Al-Banjari. Jaringan ini dimaksudkan adalah jaringan Tuan Guru Banjar di tanah rantau dengan Tuan Guru di Banjar yang intens dilakukan pada periode-periode berikutnya, khususnya Kalimantan dan luar Kalimantan, baik oleh murid-murid Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari maupun keturunannya. 

Fakta ini memberikan penjelasan bahwa jaringan ini tidak semata melakukan kontak dan interaksi dengan saudara yang  merantau, tetapi di ikuti dengan mencari pekerjaan hingga menikahi perempuan tempatan.  Situasi ini sangat jelas jaringan  geneologis Tuan Guru Banjar membentuk  gurita gerakan dakwah Islam yang berpijak pada ajaran  Sabilal Muhtadin karya Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari hingga terlihat ada pengaruh pada tradisi Islam masyarakat tempatan.
 
Syech Abdurrahman Sidiq yang dikenal dengan Tuan Guru Sapat
Jaringan geneologis Tuan Guru Al-Banjari ini semisal di Tembilahan pada abad 20 adanya Syech Abdurrahman Sidiq yang dikenal dengan Tuan Guru Sapat Mufti Kesultanan Siak Indragiri pada masa Sultan Isa berkuasa, Tuan Haji Husien Kedah, Mufti Kesultanan Kedah (1863-1965). Dato Seri Harussani bin Haji Zakaria Mufti Kerajaan Negeri Perak Di Kerajaan Riau Lingga, Syech Syahabuddin Al-Banjari sahabat Raja Ali penulis Gurindam Duabelas dan beberapa Tuan Guru di Bengkalis, Selangor dan Johor.

Sebuah penegasan adanya dakwah Islam dari Tanah Melayu di selatan Borneo/Kalimantan menjadi pijakan dan pusat menuntut ilmu agama Islam oleh masyarakat di rantau. 

Sementara di Kalimantan Borneo,  jaringan geneologis Tuan Guru Al-Banjari jauh sebelum perang Banjar sudah menyebar, khususnya dalam rangka misi dakwah Islamisasi masyarakat di pedalaman di kawasan terdekat Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah sekarang.

Situasi ini sebenarnya hingga pasca perang  Banjar berlangsung terus menerus sehingga penanggalan identitas etnis pedalaman Dusun, Lawangan, Deyah, Ngaju, Maanyan dan Bukit menjadi identitas baru Banjar dan mengikuti tata adat dan perilaku adat   Banjar sebagaimana kelaziman dilakukan oleh orang  Banjar. 

Menjadi Banjar adalah menjadi entitas modern pada masa itu, dan bagi orang Banjar menjadi seorang Haji merupakan posisi prestise di kalangan masyarakat.  Fakta inilah yang menjadi catatan Belanda bahwa di Nusantara kunjungan ke Mekkah dominan dilakukan oleh orang-orang Banjar hingga menjadi tradisi, baik dari berkembangnya perkebunan Karet dan sekalipun harus menjual asset guna berhaji (Potter, 2000).

Jaringan geneologis Tuan Guru Al-Banjari yang merampungkan suku Dayak Ngaju menjadi Islam di aliran sungai  Barito dilakukan  Qadhi Abdussamad bin Mufti Jamaluddin bin Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari. Sementara di Pontianak Kalimantan Barat  adalah Muhammad Yusup Saigon Al_Banjari dan Muhammad Arsyad bin Muhammad Thasin Al-Banjari, yang mana kedua bersaudara ini memiliki peranan penting dalam mengembangkan dan menumbuhkan lembaga pendidikan Islam di awal abad 20 di Pontianak (Rahmadi, 2010:70).[4]

Ayah mereka, Muhammad Thasin melakukan pengajaran agama Islam  ke berbagai tempat di antaranya  Pontianak, Serawak, Brunei dan Sabah.  Dalam ini tercatat pula keturunan Syech Syahabuddin Al-Banjari, yakni Syech Utsman Syahabuddin Al-Funtiani Al-Banjari menulis karyanya tidak kurang dari sebelas buah adalah ulama besar di Pontianak. 

Kemudian Tuan  Guru H.Ali Junaidi dan Tuan Guru Ismail Khatib yang berdakwah di Mukkah Serawak pada tahun 1900-an, merupakan murid dari Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari (1996). Mereka ini melakukan kawin mawin dengan penduduk tempatan dengan kerabatnya sendiri.

Khusus di kawasan luar Kalimantan dimana orang Banjar melakukan kuasa atas lahan dan dibuka untuk pertanian dan perkebunan maupun pusat pengajaran Islam,  tidak ada informasi untuk berniat mendirikan kerajaan atau mengambil manfaat dari kekisruhan kerajaan dimana mereka datangi. Kecuali itu, mereka mengabdi dalam pengajaran Islam maupun pemimpin perang melawan orang kafir.

Sedangkan di Brunei, sebagaimana catatan Pusat Sejarah Kerajaan Brunei menyebutkan, Tuan Guru Haji Ahmad Al-Banjari bin H Abdul Lathif saudara Tuan Guwat Isteri Syech Muhammaad Arsyad Al-Banjari datang ke Kesultanan Brunei pada masa pemerintahan Sultan Abdul Mu’min (Sultan ke-24 tahun 1852-1885). 

Tuan Guru Haji Ahmad karena pengajaran agama di kawasan kampung Burong Pinggari Ayer, dan  banyaknya masyarakat datang yang belajar dari Kampung Lurong Dalam, dan Kampong Buang Tekurok, maka Sultan Abdul Mu’min menganugerahi gelar kepadanya dengan gelar Pehin Datu Seri Maharaja dengan jabatan sebagai Mufti di Brunei (Daudi, 2007).[5] 

Kecuali itu, adanya Tuan Guru Haji Rafiie Hamdie yang tekun berdakwah di Tanah Dayak hingga diundang ke  Brunei di abad 20.   Catatan lain tentang  lanjutan mereka yang datang ke Brunei apakah sebentar memberikan pengajaran atau menetap, sedikit sekali informasi yang didapatkan. Namun demikian, interaksi dan jaringan yang terbangun mendorong pergerakan dakwah Islam berjalan lebih baik[6].

Sementara, di kawasan timur Kalimantan hingga ke arah utara mengingat orang  Banjar begitu deras penyebaran migrasinya baik sebagai petani, nelayan, penjahit dan pedagang pada masa lalu, di ikuti juga dengan gerakan  para orang Banjar yang mendapatkan pendidikan agama di pesantren di kawasan Kalimantan Selatan, dimana ajarannya permanen dari murid-murid Syech Muhammaad Arsyad Al-Banjari.

Hal ini masih terasa hingga sekarang dimana orang Banjar suka membentuk perkumpulan sukarela berupa perkumpulan Yasinan, Handil Kurban, Handil Maulud, Perkumpulan Sinoman Haderah dan lainnya yang merupakan kegiatan keagamaan penciri identitas adat orang Banjar hingga di ikuti masyarakat sekitar tempatan dimana mereka tinggal.

Salah satu diaspora keturunan Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari di daerah Tenggarong adalah Tuan Guru Abu Thalhah dan Tuan Guru Muhammad Khalid Tangga Ulin, pernah mengajar di Istana Parkasit Samarinda KalimantanTimur pada abad 19 dan 20, selain kehadiran para ulama Sulawesi.
 
Tuan Guru Haji Zaini bin Abdul Ghani atau dikenal dengan Guru Sekumpul. *foto: net
Ajaran Sabilal Muhtadin yang menyebar se–antero Kalimantan/Borneo dan tanah-tanah Melayu di luar Kalimantan, mampu bertahan karena kokohnya jaringan geneologis Tuan Guru Muhammad Arsyad Al-Banjari dan dilanjutkan oleh murid-muridnya, baik dari keturunannya maupun di luar keturunannya.   

Disinilah kegemilangan karya sastra Melayu kitab Sabilal Muhtadin dari peran-peran Tuan Guru Al-Banjari.  Apalagi pusat kegiatan Islam di Martapura menghadirkan Pondok Pesantren Darussalam sebagai lanjutan peran-peran dakwah di Tanah Banjar pada abad 20. 

Pada perkembangan selanjutnya, pondok pesantren ini melahirkan ulama terkenal abad sekarang yakni  Tuan Guru Haji Zaini bin Abdul Ghani atau dikenal dengan Guru Sekumpul[7], dimana jemaah pengajiannya mencapai puluhan ribu orang yang datang dari berbagai pelosok Kalimantan dan luar Kalimantan serta diakui terbesar sepanjang sejarah Islam di Kalimantan Selatan.*)Taufik Arbain



[1] Levang (1999) menjelaskan bagaimana cara orang Banjar menaklukan rawa-rawa gambut yang airnya setinggi dada bisa menjadi lahan pertanian padi sawah dengan teknologi paritnya.  Hal ini yang menjadikan etnis Bugis sempat mengadopsi cara yang dilakukan Banjar.  Demikian pula adanya undangan dari Sultan Johor untuk melakukan hal serupa pada rawa-rawa di Batu Pahat Johor.  
[2]  Sikap temperamental, keras dan garang dari paparan Arsyad, Azlan dan Izhar Aziz warga Malaysia keturunan Banjar (Juni 2012)  bagaimana mereka mendapatkan informasi perilaku kakek mereka dan orang  Banjar yang lain pada zamannnya. Persepsi negative ini sempat membuat keturunan berikutnya menyembunyikan diri sebagai entitas etnis  Banjar.  Dalam  analisis lain sikap demikian tidak lebih dari sisa-sisa jiwa habis kalah perang di Tanah Banjar
[3]  Daud (1997) menyebutkan bahwa terjadi perjanjian antara Sultan dengan Pemerintah Belanda (perjanjian 4 Mei 1826)  yang menuntut Sultan agar di kerajaannya tidak ada lagi hukuman potong tangan atau kaki. Ini menandakannya adanya hokum fiqh dimasukan dalam hokum adat.
[4]  Lihat Wan Mohd.Shaghir Abdullah, Yusup Saigon al-Banjari Ulama Hartawan.
[5]  Tuan Guru Haji Ahmad Banjar menjadi pengawas perkembangan Agama Islam di Brunei dan tempat beliau menjadi  pusat pendidikan agama dan perkembangan agama Islam di Brunei.  Salah satu murid beliau yang termasyur adalah Pehin Datu Imam Haji Mokti yang mendapatkan Ijazah Tareqat Qadariyah dari Tuan Guru Haji Ahmad Al-Banjari atau disebut dengan Datu Amat Banjar hingga berketerunan dan menetap di Brunei.
[6] Informasi lain dari wawancara Mei 2012, pada tahun 1900 an di negeri Banjar dan dimana-mana Tuan Guru asal Banjar sering dikunjungi para pelayar dan pelaut dimana mereka mampir di daratan dan turut serta dalam pengajian. Seorang  warga Brunei Datu Haji Sabtu bin Ahmad yang melakukan pelayaran turut serta ambil bagian pengajian dan membawa serta  barzanji, zikir-zikir dan pengetahuan agama lainnya ke negeri asalnya. Apakah disebarkan atau untuk keperluan sendiri tidak ada informasi lebih luas tentang hal itu.  Fakta ini sama halnya dengan pengajian yang dilakukan Tuan Guru Sapat dimana berbagai kawasan datang dengan perahu untuk mengikuti pengajian beliau.
[7] Sudah menjadi kebiasan orang Banjar, seorang Tuan Guru akan lebih dikenal dengan sebutan dimana ia bermukim dan menjalankan aktifitas pengajian dan dakwah Islam. Seperti Syech Abdurrahman Siddiq dikenal dengan Tuan Guru Sapat (Muthalib, 2009), Tuan Guru Asmuni  dikenal dengan Guru Danau, Syech Syarwani  Abdan Al-Banjari (Guru Bangil, Madura) atau Syech Muhammad Arsyad Al-Banjari dikenal dengan sebutan Datu Kalampayan, Syech Abdul Hamid dikenal dengan Datu Abulung, Syech Sirajul Huda dikenal dengan Datu Sanggul, dan lainnya adalah Tuan Guru Banjar yang disebut berdasarkan tempat tinggalnya.